Sebujur Mayat
oleh Dedy Azzhari pada 9 Agustus 2011 pukul 21:16
Kala sebujur wajah pucat tergeletak di tengah gelap
Darah mencucur terbakar rembulan
Merembes dalam pekat kesunyian
Sebujur mayat menuang cahaya
Seakan tak rela mati di hianati
Ruh yang telah bosan bersemayam
Sementara cahaya tetap memancar dari darah-darah yang terbakar
Seperti cahaya wijil yang turun ke bumi
Terpancar keluar dalam nalar
Seperti juga dirimu yang mengawang bersama kunang
Sebujur tubuhmu yang pucat terlihat begitu mempesona
Begitu putih untuk selalu di hinggapi
Begitu hitam untuk selalu menghigapi
Dan menjadikan taufan menderu kala mendengar lagu kematian
Senja di Trotoar
oleh Dedy Azzhari pada 3 Juni 2011 pukul 18:46
Menyilir angin senja
Jalanan menyapa
Daunan bersahaja
Menggugur di tudung hampa
Pantulan nasib mencium aspal
Meradang dingin malam
Deru asap bertebaran
Menjemput karam kelam
'Pelem' menikung
Kunang berkejaran
Tempat sanggama sembunyi
Ramai dibalik sepi
Pohonan merobek sunyi
Tengah pikir menari
Sepi meniduri hati
Jalanan menyapa
Daunan bersahaja
Menggugur di tudung hampa
Pantulan nasib mencium aspal
Meradang dingin malam
Deru asap bertebaran
Menjemput karam kelam
'Pelem' menikung
Kunang berkejaran
Tempat sanggama sembunyi
Ramai dibalik sepi
Pohonan merobek sunyi
Tengah pikir menari
Sepi meniduri hati
Simfoni Malam
oleh Dedy Azzhari pada 25 Februari 2011 pukul 2:27
Kulihat malam dari puncak kegelisahan
Menabur sepi di kehitaman kelam
Bintang pucat pasi mengabur
Sayap dzikir meliuk menembus awang
Daunan khusyuk menimang butir air
Tahajjud embun menetes dalam hati
Mengurai rambut dosa menggelantung
Menyeka ubun dengan gemulai
Malam yang meneteki gelap
Romantisme alam dan waktu
Menggores lukis di wajah malam
Sepenggal ayat terucap
Menghunjam pedang ilahi tepat nurani
Membacok rongga nestapa
Mengucur darah-darah terbakar
Musnah di telan desir angin
Jubah malaikat mengatup menutup semesta
Bulan mengintip malu dibalik hitam
Melantukan simfoni kemesraan
Di telinga goa sunyi
Menjelma kerlip kunang yang genit menggoda malam
Menabur sepi di kehitaman kelam
Bintang pucat pasi mengabur
Sayap dzikir meliuk menembus awang
Daunan khusyuk menimang butir air
Tahajjud embun menetes dalam hati
Mengurai rambut dosa menggelantung
Menyeka ubun dengan gemulai
Malam yang meneteki gelap
Romantisme alam dan waktu
Menggores lukis di wajah malam
Sepenggal ayat terucap
Menghunjam pedang ilahi tepat nurani
Membacok rongga nestapa
Mengucur darah-darah terbakar
Musnah di telan desir angin
Jubah malaikat mengatup menutup semesta
Bulan mengintip malu dibalik hitam
Melantukan simfoni kemesraan
Di telinga goa sunyi
Menjelma kerlip kunang yang genit menggoda malam
Melacuri malam
oleh Dedy Azzhari pada 16 Januari 2011 pukul 3:49
Kulihat malam yang bersolek di pinggir jalan
Bedak tebal menempel di pipi-pipi rembulan
Gincu hitam menggaris di bibir kering penuh pertanyaan
Sorot lampu kota yang menghunjam di tengah gemulai kehitaman
Menambah gairah mencumbu malam
Angin bersiul meniup selembar daun kering
Terbang meliuk menghias pandang
Di kejauhan yang semakin mendekat
Terdengar gerimis yang bernyanyi
Nyanyian malam tentang para gundik kota yang merana
Malam pun turun pelan menempel di jalan-jalan
Meraba jiwa yang telah mati beberapa menit berlalu
Membangkitkan kembali renjana kehidupan
Malam menjajakan indah tubuhnya kepada tiap pasang mata dan seikat jiwa
Genit memicingkan sebelah mata menggoda
Mencolek daging-daging yang hidup terkurung
Dalam kematian
Ku rebahkan tubuhku di tindihan legam
Hangat belaian hening menyelinap
Selimut tebal tentang kesunyian mendekap erat
Pada tubuh yang terpecah-pecah dalam kepingan kegelisahan
Melacuri malam yang gemulai
Melacuri kedamaian azzali
Adalah pencarian gundukan-gundukan kepuasan insan
Bedak tebal menempel di pipi-pipi rembulan
Gincu hitam menggaris di bibir kering penuh pertanyaan
Sorot lampu kota yang menghunjam di tengah gemulai kehitaman
Menambah gairah mencumbu malam
Angin bersiul meniup selembar daun kering
Terbang meliuk menghias pandang
Di kejauhan yang semakin mendekat
Terdengar gerimis yang bernyanyi
Nyanyian malam tentang para gundik kota yang merana
Malam pun turun pelan menempel di jalan-jalan
Meraba jiwa yang telah mati beberapa menit berlalu
Membangkitkan kembali renjana kehidupan
Malam menjajakan indah tubuhnya kepada tiap pasang mata dan seikat jiwa
Genit memicingkan sebelah mata menggoda
Mencolek daging-daging yang hidup terkurung
Dalam kematian
Ku rebahkan tubuhku di tindihan legam
Hangat belaian hening menyelinap
Selimut tebal tentang kesunyian mendekap erat
Pada tubuh yang terpecah-pecah dalam kepingan kegelisahan
Melacuri malam yang gemulai
Melacuri kedamaian azzali
Adalah pencarian gundukan-gundukan kepuasan insan
Mimpi jahanam
oleh Dedy Azzhari pada 12 Oktober 2010 pukul 3:56
Tengah malam aku bermimpi ketika sadar
Mimpi jahanam mencengkram
Segala tak lagi mengharam
Gemercing selambu tertiup angin
Menampik gairah sunyi
Hanya siluet dari lampu 5watt terlukis di lantai kuning
Memecah keter-jaga-anku dengan racun-racun yang bercecer mengalir bersama mimpi
Terperanjat aku ketika kau menghampiriku dalam mimpi laknat ini
Aku lihat tak lagi ada muslihat
Hanya kianat semakin penat menjilat
Ruh-ruh menjelma menjadi kata tuk merayu
Tak lagi ada yang mampu sekedar menghadangkan telapak tangan menyibak
Tak juga aku!
Mimpiku memang jahanam
Jika saja kau terlindap dalam otakku, maka aku akan slalu melayang
Entah kemana??
Mimpi jahanam mencengkram
Segala tak lagi mengharam
Gemercing selambu tertiup angin
Menampik gairah sunyi
Hanya siluet dari lampu 5watt terlukis di lantai kuning
Memecah keter-jaga-anku dengan racun-racun yang bercecer mengalir bersama mimpi
Terperanjat aku ketika kau menghampiriku dalam mimpi laknat ini
Aku lihat tak lagi ada muslihat
Hanya kianat semakin penat menjilat
Ruh-ruh menjelma menjadi kata tuk merayu
Tak lagi ada yang mampu sekedar menghadangkan telapak tangan menyibak
Tak juga aku!
Mimpiku memang jahanam
Jika saja kau terlindap dalam otakku, maka aku akan slalu melayang
Entah kemana??
0 komentar:
Your comment / PUISI Dedy Azzhari